Sabtu, 29 September 2012

PELAPORAN KEUANGAN

PELAPORAN KEUANGAN


PELAPORAN KEUANGAN
A.    Pengertian Pelaporan Keuangan
Pelaporan keuangan adalah segala aspek yang berkaitan dengan penyediaan dan penyampaian informasi keuangan. Aspek-aspek tersebut antara lain lembaga yang terlibat (misalnya penyusunan standar, badan pengawas dari pemerintah atau pasar modal, organisasi profesi, dan entitas pelapor), peraturan yang berlaku termasuk PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum atau Generally Accepted Accounting Principles/ GAAP).

B.     Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan Pelaporan Keuangan oleh Perusahaan Bisnis
FASB memulai usahanya dalam mengembangkan sebuah konstitusi bagi akuntansi dan pelaporan keuangan pada bulan November tahun 1978, ketika FASB menerbitkan pedoman luas yang bersifat perintah yang menyatakan tujuan dari pelaporan keuangan dalam Statment of Financial Accounting Concepts No. 1, Pbjectives of Financial Reporting by Business Enterprise. Pernyataan ini tidak hanya dibatasi pada isi dari laporan keuangan saja:

            Pelaporan keuangan tidak hanya memuat laporan keuangan, namun juga cara – cara lain dalam mengkomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi-yaitu, informasi mengenai sumber daya, kewajiban, penghasilan perusahaan, dan lain-lain.

Tujuan pelaporan keuangan dirangkum dalam petikan berikut ini dari pernyataan di atas:

                        Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi yang berguna bagi calon investor dan kreditor maupun yang sudah ada dan para pengguna lainnya dalam membuat investasi, kredit, dan keputusan – keputusan lain yang serupa secara rasional. Informasi tersebut sebaiknya dapat dimengerti oleh mereka yang memiliki cukup pemahaman akan bisnis dan aktivitas ekonomi serta bersedia untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar.
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi untuk membantu para calon investor dan kreditor serta para pengguna lain yang sudah ada dalam menilai jumlah, waktu, dan krtidakpastian dari penerimaan kas prospektif untuk deviden atau bunga dan penerimaan dari penjualan, penebusan, atau jatuh temponya surat berharga atau pinjaman. Prospek terjadinya penerimaan kas tersebut akan mempengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk cukup kas guna memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo dan kebutuhan – kebutuhan kas operasional lainnya, untuk melakukan investasi kembali dalam operasi, membayar deviden  kas, dan dapat juga dipengaruhi oleh persepsi secara umum dari para investor dan kreditor atas kemampuan tersebut, yang mempengaruhi harga pasar dari saham perusahaan tersebut. Jadi, pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi untuk membantu para investor, kreditor dan pihak lain dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari prospektif arus kas masuk bersih kepada perusahaan yang bersangkutan.
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi dari perusahaan, klaim untuk sumber daya tersebut (kewajiban dari perusahan untuk mentransfer sumber daya ke entitas dan ekuitas pemilik lainnya), serta dampak dari transaksi – transaksi, peristiwa, dan kejadian yang mengubah sumber daya dan klaim tas sumber daya tersebut.
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan selama periode tersebut. Para investor dan para kreditor sering kali menggunakan informasi masa lalu untuk membantu menilai prospek dari sebuah perusahaan. Jadi, meskipun keputusan investasi dan kredit mencerminkan ekspektasi dari para investor dan kreditor mengenai kinerja perusahaan di masa depan, ekspektasi – ekspektasi tersebut umumnya didasarkan pada paling sedikit sebagian dari evaluasi kinerja perusahaan di masa lalu.
                                    Fokus utama dari pelaporan keuangan adalah mengenai kinerja perusahaan yang diperoleh dari pengukuran hasil  dan komponen – komponennya.
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi mengenai bagaimana perusahaan memperoleh dan menggunakan kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman tersebut, mengenai transaksi – transaksi modalnya, termasuk deviden kas dan distributor sumber ekonomi lainnya kepada pemilik, dan mengenai faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas maupun solvabilitas perusahaan tersebut
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi mengenai bagaimana menejemendari sebuah perusahaan menggunakan tanggung jawab pengurusannya kepada pemilik (pemegang saham) untuk penggunaan sumber daya perusahaan yang dipercayakan kepadanya.
                                    Pelaporan keuangan hendaknya memberikan informasi yang berguna bagi para menejer dan direktur dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan dari pemilik.

Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa:
           
            Pelaporan keuangan itu bukanlah merupakan sebuah akhir, tetapi ia dimaksudkan untuk memberikan informasi yang berguna dalam melakukan pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi.
                                    Tujuan dari pelaporan keuangan bukanlah suatu hal yang abadi – mereka akan dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, legal, politik, dan sosial dimana pelaporan keuangan terjadi.
                                    Tujuan juga dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan dari jen is informasi yang dapat diberikan oleh pelaporan keuangan.
                                    Tujuan dari pernyataan ini adalah tujuan dari pelaporan keuangan eksternal dari perusahaan bisnis untuk tujuan umum.
                                    Istilah “investor” dan “kreditor”digunakansecara luas dab berlaku tidak hanya kepada mereka yang memiliki atau bermaksud memiliki klaim terhadap sumber dayab perusahaan, namun juga kepada mereka yang menasehati atau mewakili mereka.
                                    Meskipun pengambilan keputusan investasi dan kredit mencerminkan ekspektasi dari investor dan kreditor akan kinerja perusahaan di masa depan, ekspektasi – ekspektasi seperti itu didasarkan pada, atau paling sedikit pada, evaluasi dari kinerja perusahaan di masa lalu.
                                    Fokus utama dari peloporan keuangan adalah informasi mengenai penghasilan dan komponen – komponennya. Informasi mengenai penghasilan perusahaan yang didasarkan pada akuntansiaktual umumnya akanmemberikan indikasi yang lebih baik akan kemampuan saat ini dan berkelanjutan bagi perusahaan untuk menghasilkan arus kas yang diinginkan, jika dibandingkan dengan informasi yang terbatas hanya pada dampak keuangan dari penerimaan dan pembayaran kas.
                                    Pelaporan keuangan diharapkan memberikan informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan selama satu periode dan bagaimana menejemen dari sebuah perusahaan menggunakan tanggung jawab kepada pemilik.
Pelaporan keuangan tidak dirancang untuk mengukur nilai dari perusahaan bisnis secara langsung, namun informasi yang disajikannya mungkin dapat membantu bagi mereka yang memperkirakan nilainya.
Para investor, kreditor, dan pihak – pihak lain mungkin menggunakan penghasilan yangdilaporkan dan informasi mengenai elemen – elemen laporan keuangan dalam berbagai cara untuk menilai adanya prospek –prospek arus kas. Mereka mungkin menginginkan, misalnya, untuk mengevaluasi kinerja menajemen, memperkirakan “kekuatan menghasilkan”, meramalkan penghasilan di masa depan, menilai resiko, atau mongonfirmasikan, mengubah, atau menolak peramalan atau penilaiansebelumnya. Meskipun pelaporan keuangan seharusnya memberikan informasi dasar untuk membantu mereka, para pengguna melakukan sendiri pengevaluasian, pengestimasian, peramalan, penilaian, penyesuaian, pengubahan, dan penolakannya.
Menejemen mengetahui lebih banyak tentang perusahaan dan urusan – urusannya dengan pihak investor, kreditor, atau “pihak – pihak luar” lain, dan oleh karena itu, mungkin sering kali dapat meningkatkan kegunaan dari informasi keuangan dengan menunjukkan peristiwa dan kejadian tertentu serta menjelaskan dampak keuangan terhadap perusahaan.

C.    Tujuan Pelaporan Keuangan oleh Organisasi – Organisasi Nonbisnis
Organisasi nonbisnis berbeda dari organisasi bisnis dilihat dari dua hal. Organisasi nonbisnis:
1.      Tidak memiliki indikator kinerja yang dapat dibandingkan dengan laba perusahaan bisnis.
2.      Pada umumnya tidak menjadi subyek ujian dari kompotisi dalam pasar.


Tiga karakteristik utama yang membedakan organisasi – organisasi nonbisnis adalah:
1.      Sejumlah besar sumber daya diterima dari penyedia sumber daya, yang tidak mengaharapkan untukmenerima pembayaran kembali ataupun keuntungan ekonomi yang proporsional terhadap sumber daya yang telah mereka berikan.
2.      Organisasi bisnis terutama bergerak untuk tujuan – tujuan selain penyediaan barang atau jasa yang mendapatkan laba atau ekuivalen laba.
3.      Tidak ada saham kepemilikan yang pasti yang dapat dijual, dialihkan, atau ditebus, atau yang akan menjadi hak atas bagian dari distribusinilai sisa dari sumber daya pada saat organisasi dilikuidasi.
Terdapat empat kelompok yang khususnya berkepentingan dengan informasi yang disajikan oleh pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnis:
1.      Penyedia sumber daya, peminjam, pemasok, karyawan, pembayar pajak, anggota, dan kontributor.
2.      Elemen penyusun yang menggunakan dan memperoleh keuntungn dari jasa – jasa yang diberikan oleh organisasi.
3.      Badan – badan penyelenggara dan pengawas yang bertanggung jawab membuat kebijakan dan mengawasi serta menilai para manajer dari organisasi nonnisnis.
4.      Manajer organisai – organisasi nonbisnis.
Untuk memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna – pengguna di atas, FASB mengeluarkan draf eksposur yang memberikan tujuan – tujuan berikut ini:
Informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi sumber daya; pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnis hendaknya memberikan informasi yang bermanfaat bagi para penyedia sumber daya dalam melakukan pengambilan keputusan yang rasional atas pengalokasian sumber daya di organisasi – organisasi tersebut.
            Informasi yang bermanfaat dalam menilai jasa dan kemampuan untuk memberikan jasa; pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnis hendaknya memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia sumber daya yang sudah ada maupun yang potensial menilai jasa yang diberikan oleh organisasi nonbisnis dan kemampuannya untuk terus memberikan jasa tersebut.
            Informasi yang bermanfaat dalam menilai kepengurusan dan kinerja mmanajemen pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnis hendaknya memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia sumber daya yang sudah ada maupun potensial dalam menilai bagaimana manajer dari sebuah organisasi nonbisnis melaksanakan tanggung jawab kepengurusan merekadan aspek – aspek kinerja mereka yang lain. Informasi mengenai kinerja organisasi hendaknya menjadi fokus dalam mulai kepengurusan, atau akuntabilitas dari para manajer. Informasi mengenai penyimpangan dari mandat – mandat beban, seperti anggaran resmi dan pembatasan donor dalam penggunaan sumber daya, yang tepat mempengaruhi kinerja keuangan organisasi atau kemampuan untuk mmberikan tingkat layanan yang memuaskan juga merupakan hal yang penting dalam menilai seberapa bail manajer telah melaksanakan tanggung jawab kepengurusannya.
            Informasi menegenai sumber daya ekonomi, kewajiban, sumber daya bersih, dan pembebanan-pembebanannya; pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnis akan kepentingan pada sumber daya – sumber daya tersebut.
            Kinerja operasional; pelaoran keuangan oleh organisasi nonbisnis hendaknya memberikan informasi mengenai kinerja organisasi dalam periode tertentu. Pengukuran secara berkala atas perubahan – perubahan yang terjadi pada jumlah dan sifat dari sumber daya bersih organisasi sertainformasi mengenai usaha dan pencapaian jasa dari organisasi, bersama – sama akan mewakili informasi yang paling bermanfaat dalam menilai kinerja organisasi.
            Likuidasi pelaporan keuangan oleh organisasi oleh organisasi nonbisnis hendaknya memberikan informasi mengenai bagaimana organisasi nonbisnis memperoleh dan menggunakan dana kasnya, mengenai pinjaman dan pembayaran kembali pinjaman tersebut, serta mengenai  faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.
            Penjelasan dan interpretasi manajer; pelaporan keuangan oleh organisasi nonbisnishendaknya mencakup penjelasan dan interpretasi untuk membantu penyedia sumber daya dan pengguna lain memahami informasi keuangan yang mereka terima. Karena para manajer biasanya lebih mengetahui organisasi dan urusan – urusannya daripada penyedia sumber daya atau pihak – pihak di luar organisasi, manajer sering kali dapat meningkatkan kegunaan dari informasi pelaoran keuangan dengan menunjukkan transaksi, peristiwa, atau kejadian tertentu yang mempengaruhi organisasi, dan dengan menjelaskan dampak keuangan yang mereka berikan.

D.    Peraturan Pelaporan Keuangan di Indonesia
Di Indonesia diatur mengenai ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Peraturan mengenai ketepatan waktu tersebut diatur oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Peraturan tersebut diatur dalam UU No.8tahun 1995 dan Peraturan Bapepam No. X.K.2 keputusan ketua BapepamNo.80/PM/1996 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala setiap perusahaan publik wajib menyampaikan laporan keuangantahunan yang sudah diaudit selambat-lambatnya 120 hari sejak tanggalberakhirnya tahun buku.
Pada tanggal 30 September 2003 Bapepam mengeluarkan PeraturanBapepam No X.K.2, Lampiran keputusan ketua Bapepam No. Ke.36/PM/2003tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala untuk memperbaharui keputusan ketua Bapepam No.80/PM/1996. Pada keputusan ketua Bapepam dijelaskan bahwa laporan keuangan harus disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat lazim dan disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga atau 90 hari setelah tanggal laporan keuangan tahunan.
Apabila perusahaan tidak menyampaikan laporan keuangannya secara tepat waktu maka akan dikenakan sanksi administratif. Dari peraturan tersebut diketahui bahwa ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan tersebut sangat penting. Perusahaan yang tidak menyampaikan laporan keuangannya secara tepat waktu maka akan dikenakan sanksi administratif berupa denda sesuai dengan ketentuan pasal 63 huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan di Bidang Pasar Modal yang menyatakan bahwa: ”Emiten  yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif, dikenakan sanksi denda Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) atas setiap hari keterlambatan  penyampaian laporan dengan ketentuan jumlah keseluruhan denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar